Sungguh, sorot mata yang tak pernah berubah dari anak laki-laki yang pernah selalu singgah di hati
Tak lekang oleh jarak ribuan hari dimana terakhir ku melihatmu
Sungguh, senyuman itu tak pernah berubah setiap kali bibirmu mengatupkan kedua permukaannya
Ada bagian di dalam diri yang terus menghela nafas setiap kali mengingat wajahmu
Kita di sebuah sofa tua berhadapan dengan segelas minuman berwarna, terus terjeda sambil memangku tangan
Siapa menyangka bahwa bertemu kembali seperti hal yang tidak pernah berani kuterka sebelum-sebelumnya
Siapa yang tahu bahwa kita menatap langit yang sama, dalam satu kota yang sama
Keluhanmu berkata aku berlebihan, aku saja masih mencoba menyadarkan diri apakah ini benar terjadi
Sungguh aku antusias untuk bisa kembali berbincang denganmu mengenai bagaimana kau menjalani hidupmu
Atau mungkin sekedar duduk sambil berhadapan dan terdiam memandangi wajah yang sungguh tiap garis dan bentuknya masih dapat kubayangkan
Alam liar pikiranku mulai berbisik "bolehkah aku menjabat tangannya? atau sekedar berswafoto atau gilanya, bolehkah aku memeluknya"
Sebenarnya tidak ada kata-kata yang sesuai untuk melukiskan betapa dirimu tak pernah hilang secuil pun, dan selalu indah dalam hidup
Kau berada ditempat dimana tidak ada yang bisa mengganti posisi itu
Kau, anak laki-laki ditahun 2006 yang membuatku ingin mengenalmu lebih dari sekedar tahu bahwa kau suka memakai kaos putih dibalik seragam putih merahmu
Rabu, 20 Oktober 2021
Bertemu Kembali
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar