Tersungkur
aku dalam pekatnya malam .
Bertelut
aku diatas tanah yang basah oleh hujan disudut mataku .
Tak
kusangka sekejam ini kau permainkan aku .
Bersandiwara kau
layaknya sang pemain sandiwara yang profesional .
Begitu
lihai kau menerjemahkan lakonmu padaku .
Sampai-sampai
tak sadar kudalam ketidaktauanku .
Seakan
semua skenario telah tersusun rapi sehingga kau hanya tinggal
melakonkannya saja .
Aku pikir
kau tulus mencintaiku .
Aku pikir,
aku adalah segalanya untukmu .
Tapi apa?
Semuanya
berubah sekejap seperti sihir .
Kasihku
bersembunyi dibalik senyum tak berdosanya .
Kau berikan
padaku senyum tak berdosa, dan kau beri padanya senyum
setulus hati.
Apa bedanya
aku dengan dia?
Mengapa kau
tega berlakon dengan lihai didepan mataku?
Kau tau?
Aku lebih
merasa sakit !
Rapuh !
Telah
bersikap baik aku selama ini padamu ,
telah mengalah aku atas semua ego duniamu
telah mengalah aku atas semua ego duniamu
Dan aku
telah berkorban waktu , tenaga terlebih-lebih perasaan !
Tak bisakah
kau kecam dalam hatimu wahai kasihku?
Tak bisakah
hati kecilmu menerjemahkannya?
Sia-sia
semua apa yang aku lakukan untukmu .
Kasihku,
aku akan pergi .
Karna sudah
terlalu lelah aku menghadapi luapan egomu .
Lelah aku
menghadapi dirimu yang kekanak-kanakan .
Aku akan
pergi kasihku .
Meskipun
hati ini masih menyayangimu .
Tapi aku juga
tak ingin berlarut lebih lama lagi dalam lautan ego dan kekanak-kanakanmu .
Kenanglah aku
kapanpun engkau mau .
Tapi
kumohon , jangan harap kuakan kembali mengarungi cerita bersamamu
kasihku .
